Bandung Punya Ikon Wisata Baru

raftingbandung

Butuh satu jam untuk lima kilometer rafting di sungai ini. Asyik pisanlah, yang buang sampah hanya ada di tiga titik. Langsung saya datangi dan mereka mendukung program kebersihan sungai ini. Bulan ini harus terwujud. Wisata rafting di tengah Kota Bandung”.

Itu ujaran Ayi Vivananda, Wakil Wali Kota Bandung yang ngotot menjadikan Sungai Cikapundung sebagai venue wisata Kota Bandung melalui rafting (perahu karet)- Arung Cikapundung. TuturanAyi terlontar sesaat ia mendarat bersama lima perahu karet lainnya di dekat jembatan Jalan Siliwangi-Sabuga (7/11), kala itu badannya masih bucis dan berpelampung.

Start jounney ini di PLTA Bengkok, Dago.Saat melewati air terjun Curug Dago yang tingginya lebih dari 10 meter, rombongan menepi lalu menyusur jalur darat melewatijeram. “Ih resep pisan geuning, paparahuan di Cikapundung teh,” ujar salah satu peserta asli warga Bandung yang baru pertama kalinya lalayaran di sungai “terpanjang di dunia” – karena melewati Jalan Asia Afrika, Bandung!

Serbuan pewarta mempertanyakan gagasan Ayi, dijawabnya dengan lugas dan tuntas. Kembali ia tegaskan, sungai ini bisa jadi arena wisata baru bagi warga atau pelancong luar Bandung. “Bertahap, sambil mendidik warga mencintai kebersihan lingkungan, kita tertibkan bangunan minimal lima meter di bantaran sungai ini,” paparnya di sela-sela diskusi dengan beberapa lapisan warga pecinta Cikapundung.

Asal tahu, journey-nyakala itu dipersiapkan secara matang. Beberapa komunitas rescuedari PMI, TAGANA dan SIGAP diikutsertakan. “Ini standard operating procedure, wajib ada bila wisata rafting ini terwujud,” begitu ujarnya sambil mempersilahkan puluhan peserta menyantap nasi liwet yang dilanjut bermain paint ball di Babakan Siliwangi.

NILAI EKONOMIS

Rupanya, Ayi tidak putus asa mewujudkan kebersihan Cikapundung yang tak juga rampung. “Masyarakat pun harus kita ajak untuk melihat bahwa sungai ini bisa bermanfaat langsung, utamanya ekonomis,”ujarnya saat berdiskusi di Mantheos (31/10) dengan warga Coblong, Cidadap dan Dago. “Saya tak akan bosan mengajak mereka memanfaatkan sungai ini untuk berbagai aktivitas,” tambahnya.

Beberapa catatan dtm yang perlu disimak,Ayi dan pecinta lingkungan serta beberapa pegiat wisata, pada tahun depan akan mengadakan Festival Cikapundung. “Isinya bisa apa saja, kuliner, musik bahkan fashion show dengan catwalk di atas Cikapundung. Bertahap kita akan buat jalur bike line. Dukungan masyarakat sudah banyak. Tadi anda lihat sendiri kan?” imbuhnya saat ditanya kelanjutan rintisan perjalanan rafting ini.

Tampaknya impian Ayi yang masa kecilnya sering bermain “icikibung” dan“kukuyaan” -mengambang dengan bankaret di Cikapundung- serta melihat kehidupan ikan di Cikapundung patut diapresiasi. Nostalgia Ayi ini, merupakan indikator saat itu sungai ini masih “sehat”.

Galibnya, menjadikan Cikapundung sebagai arena bermain, dan berekonomi sekaligus sebagai ikon baru wisata Kota Bandung hanyalah sasaran antara. Sasaran utamanya menjadikan kawasan ini bersih dan layak “direnangi” seperti era 1970-an. Hakikatnya, kerinduan Ayi adalah kerinduan kita. Jargon trendy-nya kira-kira: pro go green, anti global warming, atau friendly to environment. Adakah yang berhasrat sama seperti Ayi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress | Designed by: search engine optimization company | Thanks to seo service, seo companies and internet marketing company

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.

WordPress SEO fine-tune by Meta SEO Pack from Poradnik Webmastera